Testimoni Dokter Yang Sembuh Dari Covid-19

Seorang doktor yang mengepalai IGD RSUD Dolopo Kabupaten Madiun, dr Husnul Millati, memberikan testimoni detik-detik saat dirinya terjangkit positif Covid-19 hingga akhirnya sembuh.


Menurut Husnul, saat-saat dirinya dinyatakan positif Covid-19, saat itu menjadi titik terendah sepanjang hidupnya.

“Sedih, iya. Susah, jelas iya. Nangis bombay, pastilah. Dari siang sampai tengah malam HP terus berbunyi. Masing-masing orang pada mengingat-ingat kapan terakhir ketemu saya. Ya Allah, saya diklaim orang sebagai sumber penularan virus,” cerita Husnul.

Husnul mengungkapkan, meski sudah dinyatakan positif Covid-19, namun dia tidak mengalami keluhan apapun.

“Saya tidak mempunyai keluhan panas, batuk pilek, maupun sesak. Jadi badan saya terasa sehat seperti biasa,” terangnya.

Namun air mata Husnul tidak berhenti selama karantina di rumah sakit. Dan selama itu pula, Husnul melakukan kegiatan yang positif.

“Di RS saya bisa ngaji lebih tenang karena tidak ada kerjaan lain. Berdoa dan dzikir jadi lebih khusyu karena sedang susah hati. Beberapa hari air mata ini belum juga berhenti mengalir,” ujarnya.

Berikut ini testimoni lengkap dr Husnul Millati yang dikirimkan ke Kantor Berita RMOLJatim pada Senin (1/6):

Semua perlengkapan sudah siap. Itu artinya saya harus segera meninggalkan rumah. Tapi hati ini terasa berat. Tak tega rasanya harus meninggalkan Mbak Hani yang tiga hari lalu—tepatnya Jumat (6/3/2020) sore—baru saja menjalani operasi usus buntu.

Tapi bagaimanapun juga saya harus berangkat ke Asrama Haji Surabaya untuk mengikuti Pelatihan Petugas Haji tanggal 9-18 Maret 2020. Ini sebagai syarat untuk menjadi tenaga kesehatan pendamping jamaah haji tahun ini.

Pelatihan untuk lingkup Propinsi Jawa Timur ini diikuti oleh tenaga kesehatan yang dikoordinasi oleh Dinas Kesehatan Jawa Timur dan pendamping jamaah haji yang dikoordinasi oleh Kementrian Agama Jawa Timur.

Subuh itu saya diantar Abi—panggilan saya pada suami tercinta bernama lengkap Salman Al-Farisi—ke tempat penjemputan travel yang akan ke Surabaya. Sekitar jam 10.00 saya sudah sampai Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Jalannya Pelatihan

Pelatihan berlangsung (terlihat) normal-normal saja, seperti pelatihan-pelatihan yang sering saya ikuti sebelum sebelumnya. Pesertanya berasal dari beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur, Bali, dan NTT.

Selama pelatihan, saya dan peserta yang lain dalam kondisi sehat walafiat. Waktu itu Abi sempat menelpon saya, menanyakan kabar terkait Covid-19 yang mulai menyebar di Surabaya.

Ketika itu sudah ada press release tentang pasien positif Covid-19 di berbagai rumah sakit di Surabaya. Saya jawab saja kalau baik-baik saja. Karena (seharusnya) semua peserta pelatihan seperti dalam keadaan dikarantina di lokasi pelatihan.

Tetapi di kemudian hari ternyata asumsi saya itu kurang tepat. Karena pembicara pelatihan ini telah menjalani perjalanan dari berbagai kota di Pulau Jawa.

Secara umum proses pelatihan berjalan lancar. Hanya sehari menjelang kepulangan, banyak teman-teman yang mulai batuk pilek. Hal ini terdengar jelas saat pertemuan di Aula Bir Ali. Tapi, alhamdulllah saya masih dalam kondisi sehat.

Pada akhir pelatihan, beberapa teman peserta mengajak pulang bersama. Saya iyakan saja. Hitung-hitung menghemat waktu dan biaya.

Saya pulang berlima bersama dengan teman pelatihan yang berasal dari Kota Madiun dengan mengendarai mobil. Cukup cepat juga perjalanan pulang ini karena sebagian besar perjalanan via tol Surabaya-Madiun.

Langsung Karantina Mandiri

Alhamdulillah, sampai juga di rumah. Seperti biasa anak-anak selalu senang jika saya pulang dari pelatihan. Biasalah, mereka berharap mendapatkan oleh-oleh.

Saya melihat kondisi Mbak Hani—sapaan anak pertama saya Hanifah Najma Kamilah—sudah berangsur-angsur membaik. Syukur alhamdulillah.

Sepulang dari pelatihan, keesokan harinya saya masuk kerja seperti biasa. Saat itu kami lagi sibuk-sibuknya menyiapkan IGD Covid-19 RSUD Dolopo Kabupaten Madiun. Saya masuk kerja sudah menggunakan protokol Covid-19. Yaitu memakai masker (bahkan dobel masker), jaga jarak, dan meriksa pasien dengan memakai APD (alat pelindung diri).

Sepulang dari IGD langsung mandi keramas dan baju yang tadi dipakai kerja langsung masuk mesin cuci. Semenjak hari itu saya sekeluarga mengisolasi diri secara mandiri. Saya dan Abi—yang pulang dari tempatnya kerja di Surabaya ketika Mbak Hani operasi usus buntu.

Bahkan Abi sudah membatasi diri semenjak saya berangkat pelatihan di Asrama Haji Surabaya. Saya menjaga jarak dengan tetangga, termasuk juga anak-anak saya. Pagar rumah lebih banyak kami kunci. Sejak saat itu masker seperti sahabat baru buat saya dan keluarga. Tiada keluar rumah tanpa masker meskipun awalnya beberapa kali Abi dan anak anak sempat kelupaan juga.

Adik Zaydan—sapaan anak kedua kami Nur Muhammad Zaydan Aqiila—juga kami larang bermain di luar bersama anak-anak tetangga. Mbak Hani juga beberapa kali meminta untuk berjalan-jalan ke toko buku tetapi dengan berat hati kami tolak.

Mereka (anak-anak) mengeluh, menggerutu, dan mempertanyakan keputusan kami. Mengapa sampai kesenangan mereka jadi “hilang”. Padahal saya sendiri pun juga merasa sedih.

Saya memberikan pengertian kepada mereka jangan sampai kami menjadi sumber fitnah jika sewaktu waktu ada yang terpapar Covid-19 di lingkungan tempat tinggal kami. Akhirnya dengan berat hati juga mereka mau menerima meskipun dengan muka ditekuk dan bibir manyun seperti bemo.

Tanggal 21 Maret 2020 saya dapat instruksi dari RSUD Dolopo untuk melakukan karantina mandiri. Sejak itu kami makin memperketat isolasi mandiri. Abi mulai mencari desinfektan yang mulai langka dan kalaupun ada harganya cukup mahal. Akhirnya dapat juga desinfektan yang mencukupi untuk pemakaian sehari-hari.

Setiap kali bertransaksi selalu uangnya kami semprot dengan desinfektan baik uang itu dari kami maupun dari penjual atau orang lain. Bahkan uang dari mesin ATM pun kami semprot dengan desinfektan. Pernah suatu ketika ada orang yang keheranan saat melihat Abi menyemprot uang di dalam bilik mesin ATM.

Tempat praktik dokter saya tutup untuk menghindari hal-hal yang tidak saya duga. Sejak hari itu semua pasien yang hendak berobat ke tempat praktik saya, saya tolak dengan halus.

Bahkan beberapa pasien sampai datang ke rumah beberapa kali hanya untuk dapat saya periksa dan mendapat obat dari saya. Dengan berat hati saya menolaknya. Memang bukan saya yang menyampaikan langsung tetapi Abi yang menyampaikannya karena saya tidak sampai hati melakukannya.

Tiap Hari Dapat Kabar Teman Pelatihan

Setiap hari saya dapat kabar kondisi teman-teman pelatihan di Asrama Haji itu. Teman ini ngamar dengan gejala Covid-19; teman ini ada yang kritis karena Covid-19; teman itu meninggal karena Covid-19.

Hati saya jadi was-was. Ikhtiar pun kami lakukan, seperti olahraga, minum vitamin, makan yang bergizi, minum susu, berjemur, minum jamu, dan berusaha tenang dan tidak panik. Meski menggerutu, anak-anak pun akhirnya nurut untuk melakukan hal yang sama.

Tanggal 25 Maret 2020 ada teman satu kelompok pelatihan saya yang rawat inap dengan gejala Covid-19. Tambah ndredeg rasanya. Tapi kami tetap menyemangati diri: bismillah semoga sehat, sehat, dan sehat.

Tanggal 30 Maret 2020 leher sebelah kanan saya terasa nyeri menjalar sampai telinga kanan. Sore harinya saya dapat instruksi dari Direktur RSUD Dolopo dr. Purnomo Hadi untuk check up satu keluarga. Waktu itu belum ada rapid test maupun swab test di RSUD Dolopo.

Kami diperiksa darang lengkap (DL) dan foto thorak. Alhamdulillah hasilnya normal semua. Memang, selama karantina, saya selalu dipantau oleh Pak Direktur dan dr. Maria— Kasie Yanmed RSUD Dolopo. Keduanya ingin memastikan bahwa saya sehat dan masih semangat.

Tgl 1 April 2020 dr Fadlia Sp P,M.Kes— Dokter spesialis paru yang merawat pasien Covid-19 di RSUD Dolopo—menyuruh saya ikut rapid test atas perintah Direktur RSUD  Dolopo.

Karena di RSUD Dolopo saat itu belum ada rapid test, maka saya harus ke RSUP Dr. Soedono Madiun. Saat itu rapid test tidak semudah sekarang. Dr. Fadlia Y,Sp P,M. Kes harus meminta rekomendasi dr. Bambang Subarno, SpP—dokter spesialis paru yang merawat pasien Covid di RSUP dr Soedono—agar saya bisa rapid test di sana.

Saat akan periksa, perasaan saya berkecamuk. Bingung, was-was, dan ndredeg, campur aduk. “Nanti kalau hasilnya positif, terus jadinya gimana, pasti desa saya akan geger dan akan terjadi huru-hara, sebagaimana yang terjadi saat teman saya harus rawat inap karena Covid-19. Ramai ndak karu-karuan,” ungkap saya dalam hati.

Akhirnya berangkatlah saya ke RSUP dr. Soedono dengan ditemani suami. Sebelum berangkat, saya menghubungi dr. Yurika, Sp PK terlebih dahulu. Beliau adalah dokter spesialis Patologi Klinik RSUP dr Soedono.

Akhirnya saya langsung menuju ke laboratorium terpadu dan langsung dicek, tanpa daftar maupun antre. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya hasilnya keluar. Dan hasilnya negatif. Saya langsung laporkan hasilnya ke dr. Fadlia Y, Sp P,M.Kes dan ke Direktur RSUD Dolopo.

Meski negatif kami tetap isolasi mandiri di rumah. Tetangga tidak tahu kenapa koq saya di rumah saja, tidak berangkat kerja, pagar sering terkunci, dan tidak pernah pergi belanja. Mereka juga tidak tahu kenapa anak-anak kami tidak boleh main keluar pagar.

Saat isolasi mandiri, kami mengisi waktu dengan beberapa kegiatan biar tidak bosan. Seperti membuat kerajinan tangan dan mencoba menu-menu masakan baru.

Waktu berlalu. Tanggal 8 April 2020 saya melakukan rapid test kedua di RSUD Dolopo. Saat itu di situ sudah tersedia. Bismillah berangkat. Dan hasilnya negatif. Tapi karantina mandiri berlanjut.

Mulai Masuk Kerja

Tanggal 13 April 2020 saya sudah boleh masuk kerja. Seperti biasa saya langsung aktif di IGD melayani berbagai pasien, termasuk pasien Covid-19.

Di IGD saya selalu memakai masker rangkap dua, kadang rangkap tiga. Yaitu masker bedah, N95, dan masker bedah lagi. Saat meriksa pasien saya selalu pakai handscoon. Saya juga sering cuci tangan. Mau pegang pasien, habis pegang pasien, mau pegang bollpoin, hbs pegang bollpoin, mau pegang HP, habis pegang HP. Selalu cuci tangan.

Tak lupa saya selalu berdoa semoga semua dilindungi. Sebab di sekitar saya banyak penyakit. Setiap habis shalat saya selalu mengajak keluarga untu berdoa agar terhindar dari wabah ini.

Selalu saya ucapkan tiap habis shalat, “Ya Allah, sehatkanlah saya, sehatkan keluarga saya, sehatkanlah keluarga besar saya, sehatkanlah tetangga saya, sehatkanlah teman-teman saya, sehatkanlah bangsa Indonesia, dan sehatkanlah warga dunia. Angkat wabah ini dari muka bumi ya Allah”.

Setiap hari ada postingan tentang tenaga kesehatan yang berguguran karena Covid-19. Rasanya mak tratap. Saya kuatkan hati saya, bismillah sehat waras slamet, aamiin ya Allah.

Tanggal 24 Maret 2020, ada berita teman saya satu kelompok terkonfirmasi positif Covid-19, gegerlah dunia. Teman-teman saya di RS mulai resah. Sebab teman saya itu rapid test pertama dan kedua negatif. Tap swab positif.

Jangan-jangan … bisa jadi saya pun demikian. Akhirnya tanggal 25 April 2020 saya dapat perintah untuk ikut swab test. Tgl 25 April sampai 6 Mei 2020 saya dapat perintah untuk isolasi mandiri lagi. Saya jalanilah isolasi yang berlapis-lapis ini. Bismillah ya Allah… beri kami kekuatan!

Akhirnya Saya Positif

Sekitar pukul 13.00 tanggal 6 Mei 2020 saya dapat kabar dari dr.Fadlia Y, Sp P,M.Kes bahwa swab test saya positif dan harus isolasi di RS. Meskipun sebelumnya saya sudah menyiapkan hati untuk menerima apapun hasilnya, karena kemungkinannya hanya positif dan negatif—tetap saja saya bingung, kaget, ndredeg, was-was, campur aduk jadi satu.

Saya langsung telpon ke dr. Purnomo Hadi—Direktur RSUD Dolopo—untuk meminta tolong agar mengizinkan saya untuk membawa keluarga ke RS. Karena saya tahu betul yang kontak erat dengan saya adalah suami dan kedua anak saya. Dan saya di dalam rumah memang tidak pakai masker dan tidak bisa jaga jarak dengan mereka.

Akhirnya Pak Direktur—begitu panggilan akrabnya—mengizinkan. Kami sekeluarga saling kerjasama menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya diperlukan untuk menginap di RS dalam waktu agak lama.

Segera saja kami berangkat sebelum Magrib, sebelum desa kami gempar dengan kedatangan para petugas ke rumah saya. Alhamdulilah kami sampai ke RS dan memasuki kamar yang baru saja dipersiapkan, bahkan ngepelnya pun belum selesai.

Lega rasanya. Saya tidak tega meninggalkan keluarga saya di rumah dirubung para petugas dan warga.

Alhamdulillah ya Allah kami diselamatkan dari huru-hara ini, meski kabar saya konfirmasi positif Covid-19 langsung menyebar seantero ‘jagad raya’. Sedih, iya. Susah, jelas iya. Nangis bombay, pastilah. Ya Allah …. Kenapa hidupku seperti drama Indosiar.

Dari siang sampai tengah malam HP terus berbunyi. Masing-masing orang pada mengingat-ingat kapan terakhir ketemu saya. Ya Allah, saya diklaim orang sebagai sumber penularan virus.

Kalimat-kalimat semangat dari teman dan sahabat saya terima dari japri maupun grup WhastApp. Ini juga bikin baper, nangis bombay lagi. Mereka tahunya kalau Covid-19 itu bikin sakit parah dan meninggal, meskipun saat ini tidak ada keluhan sama sekali pada badan saya. Saya tidak mempunyai keluhan panas, batuk pilek, maupun sesak. Jadi badan saya terasa sehat seperti biasa.

Ada yang ngasih semangat dengan kalimat yang kurang pas juga, “Semangat ya Nul, sodaraku bbrp waktu lalu barusan meninggal lho, Covid juga.”

Ada juga yang bertanya untuk memantapkan berita, “Bener tho Nul kamu kena Covid?”

Gak penting amat, nanya-nanya thok. Saya mau bobok sudah tengah malam.

Ada sahabat yang bilang mungkin ini memang jalan saya utk meraih Lailatul Qadar di RS. Bismillah nggarap proyek Lailatul Qadar di RS. Ya, memang semua telah ditentukan Allah. Tahun 2020 saya harus rawat inap karena Covid-19 telah tertulis di Lauhul Mahfudz bahkan sebelum alam semesta diciptakan.

Saya dan keluarga tinggal menjalani. Akhirnya saya berusaha menata hati untuk menerima semua ketetapan ini. Saya berusaha lebih dekat lagi denga Allah.

Di RS saya bisa ngaji lebih tenang karena tidak ada kerjaan lain. Berdoa dan dzikir jadi lebih khusyu karena sedang susah hati. Beberapa hari air mata ini belum juga berhenti mengalir.

Saya nitip uang pada keluarga saya belakang rumah, njagani jika kami butuh sesuatu bisa dikirimkan ke RS. Ealah, ternyata mereka sekeluarga harus karantina mandiri karena beberapa kali ketemu dengan saya.

Ya Allah terus gimana nasib saya ini? Janji Allah telah pasti, sesungguhnya bersama kesukaran itu ada kemudahan.

Alhamdulillah teman-teman Komite Medik RSUD Dolopo memenuhi segala kebutuhan saya dan keluarga selama di RS. Lewat dr Irma—anggota komite medik RSUD Dolopo—dan dr Maria, teman-teman itu selalu memperhatikan kebutuhan saya,sampai hal-hal kecil sekalipun.

Satu masalah selesai. Pikiran saya tertuju pada orangtua saya. Beliau didatangi polisi, gak boleh keluar rumah, dan gak boleh nemui orang selama 14 hari. Sejak berita saya konfirmasi Covid-19, orangtua saya dijauhi saudara dan tetangga. Mereka menganggap orangtua saya adalah sumber penularan virus.

Ya Allah, sedihnya. Saya di ruang isolasi, ndak bisa njaga orangtua, ndak bisa mbelanjakan buat mereka. Teman-teman Komite Medik RSUD Dolopo lagi-lagi mengerti kesedihan saya.

Mereka ramai-ramai berkunjung ke orangtua saya membawakan sembako dan berbagai kebutuhan. Ya Allah, jadi baper saya. Ada saudara yang tiap sore nyantolkan masakan di pintu rumah orangtua saya. Alhamdulillah ya Allah. Semoga Engkau memberkahi orang-orang yang telah menolong kami.

Alhamdulillah ibu-bapak saya sudah bisa menerima keadaan, biarlah orang mau ngomong apa, mau tingkah apa terserah. Ini memang bulan ujian. Insyaallah semuanya akan berlalu.

Swab Test Sekeluarga

Tanggal 7 Mei 2020 saya dan keluarga melakukan pemeriksaan swab. Butuh waktu lama untuk mendapatkan hasil. Setelah lima hari di RS, nafsu makan saya menurun, hampir hilang. Saya ingat rumah, kangen masakan rumah. Nangis lagi.

Ada saudara yang menjenguk, diantar satpam ke pintu belakang. Kami hanya bisa saling lihat lewat kaca pintu, ngobrol pun kurang jelas. Saudara saya nangis, dan sejak saat itu mereka mengirim masakan untuk buka puasa setiap sore, dititipkan satpam.

Semoga Allah selalu melindungimu Pak Din dan Bulek Cantik. Dengan masakan rumah yang dimasak dengan penuh cinta, nafsu makan saya dan keluarga telah normal kembali. Ya Allah, serasa makan di rumah. Pak Din dan Bulek Cantik adalah tetangga tapi sudah seperti saudara.

Waktu terus berlalu, doa-doa kami terus mengalir. Doa-doa dari keluarga, teman dan sahabat membuat kami kuat. Banyak keluarga dan sahabat yang mengirimkan suplemen, probiotik, jamu-jamu yang bagus untuk melawan Covid-19.

Ya Allah, terimalah amal baik mereka, lindungilah mereka, dan lancarkan segala urusan mereka. Mereka adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong kami.

Hasil Swab Test Sekeluarga

Tibalah tanggal 18 Mei 2020. Ada kabar hasil swab test kami sekeluarga negatif. Alhamdulillah ya Allah. Anak-anak kami bisa pulang. Tapi kami belum boleh pulang. Akhirnya Mbah Putri dan Mbah Kung-nya bersedia merawat setelah mendapatkan izin dari Ketua RT. Terima kasih Pak RT.

Kami pun bingung, siapa yang akan menjemput anak-anak kami. Sedangkan orang-orang masih takut dengan kami karena mengangap kami itu masih mengandung virus. Tapi Allah memberikan jalan keluar. Pak Din dan Bulek Cantik bersedia menjemput anak-anak dan mengantarkannya ke orangtua saya. Alhamdulillah.

Saya masih menjalani hari-hari di RS menunggu hasil swab selanjutnya, semoga saja negatif, dan bisa pulang. Akhirnya waktu pulang pun tiba. Pada tanggal 21 Mei 2020 dr. Fadlia,Sp P, M.Kes mengabarkan bahwa hasil swab saya negatif dan bisa pulang. Alhamdulillah ya Alloh... Saya pun langsung sujud syukur dan bersiap untuk segera pulang.

Hikmah dan Pesan untuk Masyarakat

Syukur alhamdulillah akhirnya kami bisa melalui ini semua. Banyak hikmah yang kami dapat dari peristiwa ini. Mari kita lakukan segala imbauan pemerintah untuk stay at home, pakai masker, sering cuci tangan, hindari kerumunan, ibadah di rumah saja selama pandemi.

Jika kita sudah melakukan itu semua insyaallah tidak akan tertular maupun menularkan virus. Jadi kita tidak akan bingung jika ada orang yang terkonfrmasi positif Covid-19 dan tidak akan berburuk sangka pada siapapun.

Untuk yang masih isolasi karena Covid-19, tetap semangat ya, jaga kondisi, olah raga teratur, istirahat yang cukup, banyak berdoa, dan lebih mendekatkan diri pada Allah. Insyaallah akan sembuh.Allah-lah sebaik-baik pelindung.

Untuk masyarakat, saya nitip pesan: jika ada tetangga atau saudara yag konfirmasi positif Covid-19, tolong jangan dijauhi, jangan dikucilkan.

Ini musimnya wabah, jadi bisa dialami oleh siapa saja, tidak pandang bulu. Tolong mereka dibantu, dikasih semangat, tolong lingkungannya bisa bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup pasien Covid-19 dan juga keluarganya.

Pasien Covid-19 harus isolasi di RS, jika butuh sesuatu pasti bilangnya ke keluarga. Tapi keluarganya di rumah juga harus karantina mandiri, dilockdown oleh warga. Kalau tidak dibantu, terus bagaimana nasib mereka?

Di era pandemi ini kita jangan sampai kehilangan akhlak budi pekerti, jangan sampai kehilangan hati nurani. Coba dikembalikan kepada diri kita, bagaimana jika musibah ini terjadi pada kita atau keluarga kita. Sedangkan orang-orang pada mengucilkan kita. Sakit kan rasanya?

Buktikan Panjenengan semua bisa menjadi ‘perpanjangan’ tangan Tuhan dengan menolong dan membantu sesama. Pasien Covid-19 dan keluarganya butuh cinta dan perhatian, bukan cibiran dan ejekan. Sayangi mereka, berikan semangat hidup dan semangat sembuh.