Abdurachman/Net

SUATU saat Rasulullah SAW menginformasikan kepada para sahabat, “akan datang kepada kalian seorang laki-laki calon penghuni surga.”

Informasi yang mengundang tanya besar. Bukankah para sahabat yang berada bersama Rasulullah SAW saat itu sama-sama mendambakan menjadi ahli surga? Tapi mengapa Rasulullah SAW tidak memilih salah satu di antara yang ada, bahkan yang dimaksud ahli surga orangnya masih akan datang, belum ada bersama mereka.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar, wajahnya masih basah bekas air wudlu. Di tangannya ada alas kaki yang dijinjing. Dia bukan termasuk sahabat yang dikenal istimewa. Baik istimewa karena shalat, puasa, jihad atau infaq-nya.

Hari berikutnya Rasulullah mengulangi informasi yang sama dengan kemarin, “Akan datang kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga”. Boleh jadi para sahabat menduga ada orang lain yang dimaksud Nabi, bukan orang yang kemarin.

Namun, lelaki yang kemarin itulah yang dimaksud Nabi. Masuk masjid dengan pola yang sama.

Di hari ketiga Rasulullah menyampaikan informasi serupa. Kembali lelaki yang itu juga yang dimaksud.

Merasa penasaran terhadap keistimewaan lelaki itu, Abdullah bin Amr bin Ash mencoba melacak informasi. Ia memohon ijin kepada lelaki itu untuk bisa bermalam di rumahnya.

“Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Jika boleh aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari,” ujar Abdullah kepada laki-laki itu.

“Tentu, silakan,” lelaki itu menyambut penuh suka. Maka tinggallah Abdullah di rumah lelaki itu selama tiga hari.

Tiga hari tiga malam berlalu sudah, tak satu pun amalan istimewa yang ditemukan Abdullah. Tidak ada shalat tahajud di sepertiga akhir malam, tidak ada puasa sunnah, semuanya standar seperti rata-rata.

Yang bisa diamati oleh Abdullah lelaki itu berdzikir dan bertakbir setiap kali terjaga dari tidur. Pria itu tak pernah berbicara kecuali ucapan yang baik.

Selesai tiga hari Abdullah pamit. Ia mengaku bahwa maksud kedatangannya adalah untuk mencari keistimewaan amalan lelaki tadi sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai calon penghuni surga.

“Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuanku menginap di rumahmu karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi calon penghuni surga sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Dengan melihat keistimewaan amalanmu itu aku bermaksud meniru supaya bisa menjadi sepertimu. Amalan apakah sebenarnya yang engkau kerjakan sehingga mampu mencapai sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai calon penghuni surga?” tanya Abdullah penuh keingintahuan.

“Aku tidak memiliki amalan istimewa, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini.” Jawabanya polos.

Setelah berterima kasih, Abdullah mohon izin pamit pulang. Belum jauh Abdullah melangkah laki-laki memanggilnya, “Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah iri atau pun dengki kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.”

“Mungkin inilah keistimewaanmu itu”, seru Abdullah penuh riang. Tidak percuma aku bermalam tiga hari di rumahmu, Abdullah bergumam melanjutkan kegembiraannya.

Sesuai petunjuk hadits di atas, setidaknya bisa diingat bahwa hakikat ibadah adalah untuk menyempurnakan akhlaq. Innamaa bu’isttu liutammima makaarimal ahlaq. Sungguh aku ini diutus hanyalah untuk meyempurnakan kemuliaan akhlaq (al-Hadits).

Kemuliaan akhlaq yang dimaksud antara lain adalah; tidak pernah curang kepada Muslim atau siapa pun, tidak iri, tidak dengki, tidak pernah berkata kotor, justru selalu dzikrullah!

Hakikat Ibadah

Seberapa pun banyaknya shalat yang dilakukan, atau ibadah-ibadah utama lainnya, sepanjang belum mampu menyempurnakan kemuliaan akhlaq maka belum mampu dinilai sebagai ibadah yang menhasilkan taqwa (ketaatan kepadaNya) (QS. 2:177). Bahkan shalat (sebagai simbol ibadah yang paling utama) jika dikerjakan bukan sesuai yang dicontohkan Nabi, bisa dinilai celaka. Shalat itu bahkan mengakibatkan keburukan, membuat pelakunya menderita (QS. 107:1-5).

Inti ibadah ialah menghasilkan ketaatan penuh kepada Allah swt, sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw. Ketaatan itu bisa berupa menahan diri dari berbuat keliru terhadap siapa pun, menghindarkan diri dari sikap iri dan dengki, sikap tercela yang akan menimbulkan bahaya besar di kehidupan pribadi dan masyarakat. Ketaatan juga ditunjukkan melalui kemampuan menahan kata-kata kotor sehingga mampu selalu dzikrullah.

Pemahaman demikian diharapkan menjadi dasar pemahaman baru di dalam memperbaiki kualitas iman seseorang, sebagai buah pengabdian kepada Tuhan melalui setiap ibadah yang dilakukan.

Terkait new normal, buah dari seluruh ibadah yang dilakukan juga ditunjukkan melalui ketaatan kepada ulil amri, pemerintah yang sah. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu” (QS. 4:59).

Sehingga new normal (tatanan kehidupan normal baru), lebih merupakan dampak dari new iman (hasil dari kualitas ibadah yang lebih baik) yang menghasilkan new disiplin (ketaatan yang lebih sempurna), ialah menyesuaikan dengan standar operasional yang ada, cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak!

Abdurachman

Gurubesar FK Universitas Airlangga, Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA), Executive Board Member of APICA


Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here