Foto/Net

rmoljatim Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor paling terdampak akibat pandemi Covid-19. Kendati demikian, bukan berarti UMKM lantas pasrah dengan keadaan.

Pandemi dinilai justru menjadi tantangan sekaligus menguji kepemimpinan pelaku usaha untuk menjalankan roda bisnisnya.

Praktisi UMKM Mochamad Tibiyani mengatakan, pengusaha tidak boleh berdiam diri atau bahkan menyerah dengan situasi. Bagaimana pun kondisinya, pelaku usaha harus mampu menjadikan kesulitan sebagai peluang untuk melompat lebih tinggi.

Situasi sulit seperti saat ini, kata dia, kepemimpinan seorang pengusaha akan diuji.

“Saat krisis seperti ini, yang dibutuhkan adalah leadership knowledge, bukan management knowledge,” kata Tibiyani dalam webinar bertajuk ‘Ekonomi Lesu, Sanggupkah UMKM Bertahan’ yang diselenggarakan Technoe Institute seperti dikutip Kantor Berita RMOLJatim, Sabtu (27/6).

Menurut CEO iPOS Teknologi Global ini, leadership atau kepemimpinan dalam konteks UMKM setidaknya ada tiga kriteria.

Pertama adalah smart. Pemimpin sebuah perusahaan harus pandai melihat peluang. Insting untuk memanfaatkan peluang ini, kata Tibiyani, harus terus diasah dan dilatih sesering mungkin.

Kedua, lanjut dia, adalah hunger.

“Jadilah UMKM yang ingin makan sebanyak-banyaknya,” ujar Tibiyani.

Pelaku usaha tak boleh puas jika sudah mencapai target tertentu. Mengembangkan diri dan juga usaha harus terus menerus dilakukan. Ketidakpuasan terhadap capian dalam satu hal ini akan terus melecut diri.

Selanjutnya, kata Tibiyani, adalah no hard feeling. “Jangan baperan,” kata dia.

Kunci ketiga ini yang kerap menjadi kendala bagi sebagian masyarakat Indonesia. Sikap seperti itu dinilai justru bisa menghambat seorang pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya.

“Seseorang capable atau tidak di entrepreneur bisa dilihat dari tiga kriteria itu. Jika ada tiga itu, itu akana menjadi modal untuk tetap survive meski dihantam pandemi,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here