India Kembali Buka Taj Mahal Meski Kasus Covid-19 Melonjak

Wisata bersejarah, Taj Mahal kembali dibuka oleh pemerintah India meski lonjakan kasus Covid-19 cukup besar.


Taj Mahal akan dibuka kembali pada Senin (6/7), setelah ditutup selama tiga bulan untuk menghindari penyebaran virus corona baru.

Melansir Reuters, kementerian mengatakan, pembukaan Taj Mahal juga diiringi dengan protokol kesehatan yang ketat. Di mana pengunjung diwajibkan mengenakan masker setiap saat, menjaga jarak, dan tidak menyentuh permukaan marmer pada situs bersejarah yang dibuat pada abad ke-17 tersebut.

"Semua monumen dan situs yang dilindungi secara terpusat harus terikat oleh protokol seperti sanitasi, jarak sosial, dan protokol kesehatan lainnya," ujar kementerian dalam akun Twitter-nya.

Selain itu, hanya ada 5.000 wisatawan yang akan diizinkan untuk berkunjung dalam sehari. Mereka pun dibagi ke dalam dua shift. Biasanya, Taj Mahal bisa menarik pengunjung hingga 80.000 orang dalam sehari.

Mereka akan mengerumuni makam yang dibangun di kota utara Agra oleh kaisar Mughal Shah Jahan untuk istrinya. Pembukaan Taj Mahal menjadi bagian dari upaya relaksasi pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah untuk memajukan kembali ekonomi dan pariwisata.

Meski begitu, pembukaan Taj Mahal memicu kekhawatiran baru mengingat saat ini infeksi Covid-19 di India berada pada laju tercepatnya dalam tiga bulan terakhir. Pada Minggu, Kementerian Kesehatan melaporkan rekor kasus harian Covid-19 sebanyak 24.850 dengan lebih dari 600 kematian. Totalnya, kasus Covid-19 di India mencapai 673.165, mendekati Rusia yang saat ini menduduki posisi negara ketiga yang memiliki jumlah infeksi terbanyak di dunia.

Selain itu, seorang pejabat administrasi yang enggan menyebutkan identitasnya mengatakan, Taj Mahal dikelilingi oleh titik-titik merah Covid-19.

"Kami tidak mengharapkan pengunjung di sini karena kluster di sekitar Taj, termasuk toko-toko dan hotel ditutup," ungkap pejabat tersebut.