Klaim Ilmuwan Li Meng Yan Soal Kebenaran Covid-19, Benarkan China dan WHO Berbohong Pada Dunia?

Klaim Ilmuwan Li Meng Yan Soal Kebenaran Covid-19, Benarkan China dan WHO Berbohong Pada Dunia?

Seorang ilmuwan wanita asal Hong Kong bernama Li Meng Yan mencuri perhatian publik beberapa pekan terakhir.


Dokter terkemuka yang berspesialisasi dalam virologi dan imunologi ini angkat bicara soal apa yang dia klaim sebagai fakta yang disembunyikan oleh pemerintah China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) soal virus corona.

Tentu klaim yang menyerang China dan WHO ini tidak dia lontarkan dari Hong Kong, apalagi China. Dia angkat bicara setelah angkat kaki dari Hong Kong ke Amerika Serikat.

Klaimnya pertama kali diangkat secara ekslusif oleh media Fox News beberapa pekan lalu. Namun baru-baru ini, dia kembali muncul di hadapan publik untuk memaparkan klaimnya tersebut.

Dalam acara radio show dan podcast di Amerika Serikat, "War Room: Pandemic" yang dipandu oleh eksekutif media yang juga aktivis politik Steve Bannon, Yan mengungkapkan banyak hal yang mencengangkan.

Yan mengaku bahwa dirinya bekerja di laboratorium tingkat keamanan patogen-3 atau disebut juga P3 lab di Hong Kong.

"P3 lab tempat saya bekerja di Hong Kong sebenarnya milik Universitas Hong Kong (HKU) dan School of Public Health," ujarnya.

Di tempat di mana dia bekerja, terdapat dua nama ahli virologi terkemuka di dunia, yakni Professor Malik Peiris dan Profesor Leo Poon.

Keduanya, kata Yan, adalah konsultan WHO bagi dua penyakit baru yang muncul, influenza dan juga virus corona baru.

"Dan kita juga adalah laboratoriun referensi WHO. Laboratorium ini adalah laboratorium virus corona top di dunia, dan kedua ahli ini (Peiris dan Poon) adalah ahli corona top di dunia," jelas Yan.

"Jadi, pada dasarnya di laboratorium ini kami mampu memproduksi dan juga menganalisis semua jenis virus yang muncul," tambahnya.

Yan mengklaim, China dan juga WHO telah lebih dulu mengetahui soal virus corona baru, jauh sebelum mengumumkannya kepada dunia.

Dia menceritakan, sejak akhir Desember 2019 lalu, atasannya, yakni Prof. Leo Poo menugaskan dia untuk melakukan penyelidikan rahasia tentang pneumonia baru yang terjadi di Wuhan, China. Namun pada saat itu tidak ada berita resmi dari China daratan terkait pneumonia baru. Sehingga Yan menghubungi koleganya di China untuk mencari tahu lebih lanjut soal pneumonia baru itu.

"Karena saya memperoleh gelar PhD dan M.D dari (universitas di) daratan China. Saya memiliki jaringan besar di rumah sakit-rumah sakit di China dan juga lembaga penelitian pemerintah," jelasnya.

Dari para koleganya itulah, Yan mengaku mendapatkan informasi tangan pertama soal pneumonia baru itu. Dari mereka pula lah, Yan mendapatkan informasi bahwa sejak akhir Desember 2019 lalu, pemerintah China sudah mengetahui bahwa ada lebih dari 40 kasus pneumonia baru yang dikonfirmasi di Wuhan.

"Dan mereka juga sudah mendapatkan urutan genom dari Wuhan, tidak seperti yang mereka nyatakan pada pertengahan Januari (2020)," jelasnya.

"Hal lain yang terpenting adalah, (pada saat itu) sudah ada penularan dari manusia ke manusia dan ada kluster (infeksi) keluarga yang terjadi," tambah Yan.

Namun pada saat itu belum ada pemberitaan ataupun pengumuman publik soal pneumonia baru tersebut.

Yan menuturkan, para dokter di Wuhan sangat ketakutan, namun tidak berani mengatakan apapun kepada publik, selain meminta masyarakat mengenakan masker.

Yan menjelaskan, hasil penyelidikan yang dikumpulkannya itu kemudian dilaporkan ke atasannya, Poon dan juga WHO. Namun betapa terkejutnya dia karena meski kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan, namun tidak ada pengumuman publik yang disampaikannya.

"Jadi ini juga yang membuat saya terkejut saat itu. Karena saya tahu mereka pasti sebagai ahli WHO yang sudah mengetahui berita ini dan pemerintah Partai Komunis China tahu bahkan lebih awal dari mereka, dan saya tidak tahu mengapa mereka semua berkolaborasi bersama untuk menyembunyikan kebenaran kepada dunia," tuturnya.

Kemudian pada pertengahan Januari 2020, Yan mengaku bahwa dia kembali ditugaskan oleh Poon untuk melakukan lebih banyak penyelidikan rahasia tentang ini. Namun lagi-lagi, setelah hasil penyelidikannya dia laporkan ke atasannya, tidak ada tanggapan atau pengumuman kepada publik soal masalah ini.

Memang Yan mengakui bahwa sejak awal penyelidikan tersebut, atasannya menekankan bahwa itu adalah penyelidikan rahasia dan memperingatkan Yan untuk berhati-hati.

"Tepat seperti pada 16 Januari ketika dia (Prof. Leo Poon) kembali meminta saya untuk melakukan penyelidikan, dia mengatakan kepada saya bahwa, saya mengutipnya, jangan melewati 'garis merah' dan hati-hati, jika tidak, kamu akan menghilang," kata Yan, menirukan pernyataan Leo Poon.

'Garis merah' apa yang dimaksudkannya?

"Sebenarnya tidak ada garis yang terlihat, (garis merah) itu ada di pikiran kita," kata Yan.

Menurutnya, hal itu berkaitan dengan pemahaman soal kebijakan Partai Komunis China yang berkuasa.

"Apapun yang mereka (Partai Komunis China) tidak ingin Anda berbicara, tidak ingin Anda menyentuh, itu adalah 'garis merah'," terang Yan.

"Dan entah bagaimana, kadang-kadang Anda tidak tahu bahwa Anda sudah menyeberangi (garis merah), dan Anda dihukum," tambahnya.

'Garis merah' itu pula lah yang membuat Yan enggan buka suara soal apa yang dia ketahui kepada publik saat dirinya masih berada di Hong Kong.

"Karena ketika saya mulai menceritakannya di Hong Kong, saya akan segera menghilang, sama seperti para pengunjuk rasa (pro-demokrasi) di Hong Kong yang menghilang tanpa nama," ujarnya.

"Hal itu sangat mengerikan, karena pemerintah Partai Komunis China sekarang mengendalikan China daratan dan juga luar negeri," sambung Yan.

Lebih lanjut Yan juga mengklaim bahwa virus corona baru atau disebut juga SARS-CoV-2 tidak muncul secara alamiah.

"Seperti (klaim) bahwa hewan dapat menyebarkan SARS-CoV-2, yang merupakan kebohongan total," tegasnya.

"Menurut pengalaman penelitian saya sendiri. Dan semua informasi dan intelijen yang saya dapatkan, saya dapat memberitahu Anda bahwa (SARS-CoV-2) pasti tidak berasal dari alam," jelas Yan.

"Dan itu juga pasti tidak datang dari Pasar Seafood Huanan Wuhan," tambahnya.

Pasalnya, kata Yan, semua bukti yang dikumpulkannya menunjukkan bahwa tidak ada gen hewan yang tersisa dalam sampel kasus apa pun yang diteliti di China. Namun anehnya, pemerintah China bersikeras bahwa semua pasien Covid-19 pada awal masa pandemi memiliki rekam jejak atau riwayat berkaitan dengan Pasar Seafood Wuhan.

"Mereka (pemerintah China) tahu setidaknya sepertiga dari pasien tidak memiliki riwayat ini," jelasnya lagi.

Karena itulah, menurut Yan, klaim soal virus corona berasal dari Pasar Seafood Wuhan dan berasal dari binatang tidak lebih dari sekedar kambing hitam.

Yan bahkan mencurigai bahwa virus tersebut berasal dari laboratorium.

"Saya sekarang sedang mempersiapkan laporan ilmiah yang sangat kuat untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa betapa mudahnya ini (virus) dapat dilakukan dari laboratorium," ungkapnya.

Klaim-klaim berani sang whistleblower di atas kerap dia gaungkan dalam sejumlah wawancara dengan banyak media sejak beberapa pekan terakhir. Hal itu pun menyedot perhatian publik dunia.

Lantas, apakah klaimnya tersebut dapat dipercaya? Sejak awal kemunculan Yan dan klaimnya ke publik, WHO telah membantah semua klaim Yan tersebut dan menyatakan tidak pernah bekerja dengan Yan.

Melansir Daily Mail, Universitas Hong Kong juga menghapus halaman Yan di situs web mereka. Selain itu, dalam sebuah pernyataan kepada Fox News, pihak universitas juga mengatakan bahwa Dr Li-Meng Yan tidak lagi menjadi anggota staf universitas.

Sementara itu, melansir jaringan CGTN, Universitas Hong Kong juga mengeluarkan pernyataan yang membantah klaim bahwa Yan pernah melakukan penelitian seperti yang dia ungkapkan.

"Dia (Yan) tidak pernah melakukan penelitian tentang penularan virus corona dari manusia ke manusia di HKU (Universitas Hong Kong) selama Desember 2019 dan Januari 2020. Dan selanjutnya mengamati bahwa apa yang mungkin ditekankannya dalam wawancara yang dilaporkan tidak memiliki dasar ilmiah tetapi menyerupai desas-desus," begitu bunyi pernyataan tersebut.

Sedangkan Kedutaan Besar China di Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan dengan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan tentang Yan, dan menyatakan bahwa China menangani pandemi dengan baik.