Data Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) mencatat 30 juta UMKM bangkrut akibat kebijakan pembatasan sosial di tengah pandemic. Hal ini menunjukkan Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
- Buka Job Fair 2024, Pemkab Bondowoso Harap Mampu Tekan Tingkat Pengangguran
- Gelar Job Fair, Mas Pj Wali Kota Berharap Tekan Pengangguran Terbuka di Kota Mojokerto
- Kaleidoskop 2023: Angka Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem serta Tingkat Pengangguran Terbuka di Surabaya Terus Menurun
Aktivis kemanusiaan Natalius Pigai mengibaratkan, data Akumindo tersebut sama dengan bencana alam tsunami.
"Indonesia sedang dalam tsunami pengangguran," kata Natalius Pigai di akun Twitternya, Sabtu (27/3).
Pigai menjelaskan, kebangkrutan puluhan UMKM tersebut menambah daftar panjang pengangguran di Tanah Air. Hal ini sudah barang tentu harus menjadi atensi pemerintah.
"30 juta UMKM bangkrut, maka penganggur bukan hanya 7 juta, tapi lebih dari 30 juta. Jika 1 UMKM pekerjanya 3 orang, maka sudah pasti 90 juta orang nganggur," urainya seperti dimuat Kantor Berita Politik RMOL.
Adapun data puluhan UMKM bangkrut sebelumnya disampaikan Ketua Umum Akumindo, Ikhsan Ingratubun dalam diskusi virtual yang digelar Bank Indonesia (BI), Jumat (26/3).
Ia menjelaskan, 30 juta UMKM bangkrut akibat kebijakan pembatasan sosial di dalam negeri di tengah pandemi Covid-19. Hanya sekitar 34 juta unit usaha kecil yang bertahan.
"Lebih dari 7 juta tenaga kerja informal dari UMKM juga kehilangan pekerjaannya," jelas Ikhsan.
ikuti terus update berita rmoljatim di google news
- PBB Ubah Predikat Indonesia dari 'Negatif' jadi 'Netral' Pasca Transfer Terpidana Mati Mary Jane
- Menteri HAM Natalius Pigai: Lewat Kritik, Media Dapat Mengisi Ruang Kosong Pemerintahan
- JMSI dan Natalius Pigai Sepakati Komitmen Perkuat HAM Tanpa Diskriminasi