Pesantren di Solokuro Lamongan: Dari Musala kini Punya Ratusan Santri Penghafal Quran

KH Dr Abdullah Zawawi/RMOLJatim
KH Dr Abdullah Zawawi/RMOLJatim

Pesantren Darul Qur'an An-Nur yang terletak di desa Banyubang, Kecamatan Solokuro, Lamongan lahir dari sepetak musala yang kemudian difungsikan sebagai rumah Tahfidz.


Dari yang awalnya hanya memiliki segelintir santri saja, kini setelah lebih dari satu dekade berdiri dan bertransformasi, pesantren yang dirintis sejak tahun 2014 itu telah memiliki ratusan santri dan alumni penghafal Al- Qur'an lengkap dengan gedung asrama dan sekolah formal.

Pengasuh Ponpes Darul Qur'an An-Nur, KH Dr Abdullah Zawawi menuturkan, sejak perintisannya, pembelajaran utama yang disiapkan pesantren untuk para santri memang berkonsentrasi pada hafalan kitab suci Al-Qur'an. 

Meski begitu, para santri juga diberikan ilmu pengetahuan lain. Baik itu pembelajaran materi yang khas dengan tradisi pesantren seperti fikih, hadits, kitab kuning dan lainnya. Serta ilmu umum melalui sekolah formal MTS-SMA Darul Qur'an yang ada di area pondok.

Terbaru, bahkan ada pembelajaran khusus lain yang diberikan pondok untuk para santri, yakni materi ilmu falaq komplit dengan praktiknya. Hasilnya dalam tiga tahun terahir, kalender yang diterbitkan oleh pesantren merupakan hasil kajian ilmu falak oleh para santri.

"Karena lahir dari rumah Tahfidz, menu utama keilmuan dalam Ponpes Darul Qur'an An-Nur adalah menghafal Qur'an, baru-baru ini kita juga mencoba fokus ke ilmu falaq," kata Kiai Zawawi dikutip Kantor Berita RMOLJatim, Minggu (30/03).

Saat ini tercatat ada sebanyak 160 santri putra plus putri yang masih dalam proses menghafal Qur'an. Para santri yang berasal dari berbagai daerah hingga luar Jawa tersebut, menghafal Qur'an sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing.

Membiarkan para santri menghafal tanpa tekanan dan target lamanya waktu menguasai hafalan, menurut Kiai Zawawi, berangkat dari pertimbangan terkait kemampuan santri dalam melakukan hafalan yang berbeda antar satu sama lain. 

"Kemampuan santri berbeda-beda. Ada yang cukup butuh waktu setahun, ada yang sudah hampir lulus tapi belum menguasai hafalan sepenuhnya," ungkapnya.

Ketika ditanya terkait rencana kedepan, Kiai Zawawi menerangkan jika pihaknya masih akan terus fokus pada pengembangan pesantren. Baik itu sistem pembelajaran maupun sarana dan fasilitas, terutama proses menghafal Al-Qur'an oleh santri.

Kiai Zawawi tak menggebu mengenai jumlah santri yang diharapkan nyantri di pesantren rintisannya. Baginya, ada yang lebih perlu didahulukan dari jumlah santri. Yakni kesiapan fasilitas pendidikan dan sarana pesantren untuk mandiri.

"Kita tidak menggebu-gebu terkait jumlah santri. Yang paling penting sarana dan fasilitas pendidikan harus siap terlebih dulu," pungkasnya.

ikuti terus update berita rmoljatim di google news